Istimewakah Dirimu?

“teman-teman besok siang sekitar pukul 15:00 kita disuruh kumpul di tempat Bapak Y yah” begitu kira-kira pesan yang terbaca di layar ponselku.

                Keesokan harinya pada waktu yang tekah ditetapkan, aku bersama beberapa orang rekanku bergegas untuk menghadap salah seorang petinggi di tempatku beraktivitas sehari-hari, ya Bapak Y. Aku tidak tahu ada apa, yang pasti sejauh yang aku tahu aku yakin aku tidak sedang memiliki masalah dengan beliau. Perlahan, satu persatu kami memasuki ruang pribadi beliau. Keadaannya memang agak kaku, khususnya buatku, karena aku tahu siapa yang saat itu akan aku hadapi.

                Tidak berapa lama, seseorang yang sudah kukenal cukup lama memasuki ruangan, sebut saja beliau Bapak X, yang kemudian duduk berhadapan dengan kami. Ternyata bukan Bapak Y sebagaimana informasi yang kuterima hari sebelumnya. Secara perlahan namun jelas, Bapak X menceritakan perihal pemanggilan kami, sehingga jelaslah bagiku tujuan pertemuan hari itu.

                Hari itu, ternyata kami semua dipanggil untuk membicarakan masalah “remunerasi” atas hasil kerja kami. Memang beberapa waktu belakangan, kami baru saja selesai melaksanakan amanah dibawah arahan Bapak Y, proses persiapan hingga selesainya kegiatan itu memang memakan waktu yang cukup lama, terasa cukup menyita sebagian hari-hariku disela-sela tanggung jawabku yang lainnya saat itu.

                Aku sama sekali tidak merasa terkejut, karena sepengetahuanku, hal ini memang sudah rutin dilakukan setiap tahunnya. Awalnya aku merasa senang, kalau boleh jujur, siapa sih yang tidak senang diberi uang, lagipula uang ini dari hasil keringatku sendiri. Namun, ketika Bapak X mulai masuk lebih jauh kedalam pokok pembicaraan, aku menyadari adanya keganjilan dalam hal ini. Ada praktek yang salah disini, sebuah kebohongan, sebuah penipuan besar, dan aku telah terperangkap didalamnya.

                Aku memang marah, aku merasa ragu, tapi sayangnya saat itu aku tidak memiliki kemampuan yang cukup untuk menanggulangi godaan dunia. Dengan gemetar, aku menandatangani sebuah faktur yang berisikan kebohongan, sebuah nominal yang sama sekali tidak sesuai dengan kenyataan. Ya aku telah resmi menjadi anggota komplotan penipu ini.

                Saat itu, kau tahu apa yang terus menerus coba kuyakinkan pada diriku sendiri. “Aku enggak salah dong, kan aku udah bekerja, jadi pantes dong kalo aku menerima bayaran, kalo masalah penipuan ini, itu bukanlah urusanku, aku hanya mengambil apa yang menjadi hak-ku.” Betapa munafiknya diriku.

(reka kejadian diatas bukanlah kisah nyata, melainkan hanya cuplikan-cuplikan kreatifitas penulis)

                Di lain waktu, saat aku mendengar kabar tindakan korupsi yang dilakukan oleh jajaran pemerintah, aku merasa begitu kesal, sembari berkata dalam hati “Jadi pajak yang gua bayar selama ini, digunakan untuk kepentingan segelintir orang?, orang-orang kayak begini harus dihukum dengan seberat-beratnya, dipenjara seumur hidup kalau perlu”

============================================================

Kau lihat apa yang telah kulakukan, aku telah mengistimewakan diriku sendiri. Begitu istimewanya diriku hingga aku mampu mengadakan pengecualian-pengecualian atas diriku. Aku mampu membenarkan tindakanku padahal aku tahu pasti letak kesalahanku. Secara tidak sadar aku telah menerapkan standar ganda. Timbanganku telah miring, tidak lagi seimbang.

Aku selalu teringat riwayat berikut, dan selalu berhasil membuatku berpikir lebih panjang

Qutaibah menceritakan kepada kami, Al-Laits menceritakan kepada kami dari Ibnu Syihab dari Urwah dari ‘Aisyah bahwa orang-orang Quraisy dibuat resah oleh kasus seorang perempuan Makhzumiyyah* yang melakukan pencurian. Namun mereka bingung, siapa yang berani membicarakan pembatalan hukuman itu kepada Rasulullah saw. Mereka bertanya-tanya, “Siapa yang berani berbicara kepada Rasulullah saw?!” Mereka berkata, “Tidak ada yang berani melakukan ini kecuali Usamah bin Zaid –kekasih Rasulullah saw-.” Maka Usamah pun membicarakannya kepada beliau. Rasulullah pun bersabda,

Apakah kamu minta keringanan/pembatalan dalam salah satu hukuman Allah?”

Selanjutnya beliau berdiri dan berkhutbah,

Sesungguhnya salah satu penyebab kebinasaan umat sebelum kalian adalah apabila ada orang mulia pada –komunitas– mereka melakukan pencurian, mereka membiarkannya, dan apabila orang hina  pada –komunitas– mereka melakukan pencurian, mereka segera melaksanakan hukuman. Demi Allah, seandainya Fathimah binti Muhammad melakukan pencurian, pasti akan kupotong tangannya.”

(Hadith Riwayat Tirmidzi nomor 1430)

*Makhzumiyyah adalah salah satu suku yang paling dihormati dalam struktur masyarakat Makkah kala itu

                Ini hanyalah satu contoh, bagaimana ketika aku menyontek? bagaimana ketika aku menyela sebuah antrian? bagaimana ketika motorku melewati batas zebra cross saat lampu merah? Bagaimana ketika aku …?

Ketika membeli, kau gunakan timbangan yang separipurna mungkin
Ketika menjual, kau gunakan timbangan yang berat kearahmu
Inikah timbanganmu?
Cukuplah, dan terus luruslah
Mungkin ini dosa terakhir yang ditetapkan Allah atasmu

Jangan tanya kepadaku mengapa negeri ini sulit untuk menjadi sejahtera
Tanyakanlah pada dirimu, apakah kau berkontribusi dalam lemahnya negeri ini?

*semoga menjadi pembelajaran dan pengingat bagi penulis dan siapapun yang terdampar disini

Fayza Nabafil Haqq, -cahaya dari timur-
berharap menjadi permulaan dan pelindung cahaya.
Bekasi, 15 Mei 2010
arcadiafayzaleviaathfal.tumblr.com

  09:26 am, by arcadiafayzaleviaathfal  Comments



Notes