cukupkah dengan diam?

 Diam”, bagiku mengandung ribuan kemungkinan yang sebanyak bintang dalam cerahnya langit malam.

Seringkali aku kesal dengan ke’diam’an sahabatku, sementara tidak sedikit orang memilih untuk diam ketika menghadapi masalah pelik dengan sahabatnya. Mereka diam untuk sembunyikan dan redakan amarah, kekecewaan, dan kekesalan.

“Adakah yang salah?” Dengan yakin kubalas “Tidak, tidak ada, justru dianjurkan.”

Aku sendiri merasa nyaman berada dalam diam yang membuatku tenang.

Pertanyaanku, “cukupkah itu?”

Ini bukan hanya tentang “aku” dan “aku” saja, ada “kau” dan “mereka” yang  mungkin turut terlibat.

Mungkin cukup bagimu untuk menghindarkan hatimu dan dirimu dari kekejian, tapi tidakkah kau sadar kau mungkin telah membiarkan mereka tersasar lebih jauh dalam rimba kekeliruan.

hanya “berdiam” semata, bagiku adalah sebuah keegoisan, sementara bagiku keegoisan adalah kelumpuhan.

izinkanlah aku mengutip untaian lembut dari buku yang dipinjamkan oleh saudaraku

“Apakah layak Ahmad selamat
Sementara semua manusia sesat?”
-
Imam Ahmad Ibn Hanbal-


“Kawan,
Apabila aku membuatmu kesal, sampaikanlah sehingga aku tahu kesalahanku
Bilapun tidak, sampaikanlah sehingga aku tidak berpraduga terhadapmu

Kumohon,
Janganlah ke”diam”anmu menjadikanku terombang-ambing dalam ketidaksadaran dosa
Bantulah aku menutup satu-satu dari ribuan pintu neraka dihadapanku

Bukankah aku sahabatmu?”


Pramudya Radiant Hafidz Athfal, -cahaya dari barat-
berharap menjadi penyimpul dan pembela cahaya.
Bekasi, 15 Mei 2010
http://arcadiafayzaleviaathfal.tumblr.com/

  09:16 am, by arcadiafayzaleviaathfal  Comments



Notes